Jumat, 28 Februari 2014

Tebang Bambu, Dua Tewas Tersengat Listrik

BERNIAT menebang bambu di sekitar Jalan Mayjen Sutoyo, Gunung Malang, Balikpapan Selatan, tak jauh dari supermarket Yova Mart, dua pekerja mengalami insiden kesetrum. Keduanya tewas di lokasi kejadian, sekira pukul 14.15 Wita, kemarin.

Kedua korban perantauan asal Desa Palas, Kecamatan Kie, Kabupaten Nusa Tenggara Timur ini bernama Yosias Mitro (24) dan Jeri Kaseh (26). Mereka baru bekerja tiga bulan sebagai buruh di Jalan Pupuk, Balikpapan.

Informasi dihimpun, saat kejadian, sedang gerimis, keduanya sedang di atas, ketinggian sekitar 5 meter. Mereka berniat memotong bambu namun, disinyalir, ada hubungan arus pendek.

“Ada percikan api pada ujung bambu kemudian ada asap. Yosa dan Jeri sudah tergeletak. Tubuh Yosa terbakar dan Jeri hangus,” ujar Tinus, rekan korban yang menunggu di bawah.

Kedua jasad sudah dibawa ke ruang Mortuary RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan untuk visum. Proses evakuasi memakan waktu sekitar satu jam. Arus kendaraan di jalan itu jadi macet karena banyak pengendara berhenti dan masyarakat sekitar memadati untuk menyaksikan proses evakuasi.

Kapolres Balikpapan AKBP Andi Azis Nizar menerangkan, pihaknya masih melakukan penyelidikan, apakah ada unsur kelalaian dalam kecelakaan kerja ini.

“Masih dihimpun keterangan saksi dan olah tempat kejadian perkara,” ujarnya.

Sebut Makkah dan Madinah di Mugirejo, Istri Jamaah Disetubuhi MUI Dalami Dugaan Ajaran Sesat di Samarinda Utara

Aliran sesat yang meresahkan masyarakat kembali hadir di ibu kota Kaltim. Sempat bersitegang dengan warga setempat. MUI turun tangan menyelidikinya.
 
M RIZKI, Samarinda
 
LAMA tidak terdengar kabarnya, aliran sesat di Kota Tepian muncul lagi ke permukaan. Tepatnya di Jalan Mugirejo, Gang Manunggal RT 6, Kecamatan Samarinda Utara. Dengan motif pengajian dan pengobatan spiritual, seseorang yang mengaku ustaz diduga menyampaikan ajaran menyimpang dari Islam. Yaitu, menarik iuran puluhan hingga ratusan juta rupiah dan melakukan hubungan seks dengan istri jamaah.

Dikonfirmasi kabar tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda KH Zaini Naim membenarkan. “Jadi, memang beberapa hari lalu ada sekelompok orang datang ke MUI Samarinda. Mereka melaporkan seorang ustaz yang mengajarkan ajaran yang menurut mereka tidak benar. Kenapa mereka mengatakan tidak benar? Karena yang melaporkan itu adalah pengikutnya (sendiri, Red),” ungkap Zaini Naim, kemarin (27/2).

Dari laporan eks jamaah ini, kegiatan pengajian dan pengobatan itu dipimpin Mahmudin Azhari. Perkumpulannya disebut Majelis Ar Roudhoh di bawah naungan Yayasan Sekumpul.

Adapun ajaran yang diduga menyimpang itu, sebut Zaini Naim, soal adanya investasi yang ditarik dari jamaah oleh Mahmudin.

“Selain itu, ada motif pelecehan seksual. Karena istri jamaah itu dikawini lewat alam gaib. Dengan mengawini istri jamaah melalui alam gaib, maka perlu kawin di alam yang nyata. (Alasannya) masak ada orang kawin tidak bersetubuh,” ucap Zaini Naim.

Mengapa jamaah perempuan rela dikawini sehingga bersetubuh? Zaini Naim mengatakan hal tersebut bisa saja berawal dari sugesti dan sihir.

“Kami tidak tinggal diam, karena ini menyangkut ajaran dan (akidah) Islam. Saya memerintahkan majelis ulama kecamatan untuk melakukan penyelidikan dan mengumpulkan barang bukti. Sekarang dalam proses. Ketika buktinya kuat, akan saya panggil gurunya,” tegasnya.

Terkait fatwa yang akan dikeluarkan, Zaini Naim mengatakan akan memikirkan hal itu. “Kalau sampai meresahkan, kami serahkan ke kepolisian untuk menindaknya. Begitu pula adanya (dugaan) penipuan. Kalau menyangkut pelecehan agama, ada delik hukumnya lima tahun. Jadi masyarakat jangan mengambil tindakan sendiri,” ujarnya.

Dari penelusuran Kaltim Post, kondisi rumah tempat kegiatan Mahmudin di Mugirejo terlihat lengang dan terkunci. Menurut salah seorang warga yang namanya enggan dikorankan, Mahmudin kini tidak diketahui keberadaannya.

“Iya Mas, bermasalah. Sudah lama enggak ditempati. Sempat berselisih dengan warga sekitar,” tutur perempuan paruh baya itu.

Adapun perselisihan dimaksud adalah pengajian yang diselenggarakan setiap malam, cukup mengganggu warga sekitar lantaran lantunan suara yang keras. “Dengar-dengar juga istri jamaahnya disetubuhi,” imbuh perempuan tersebut.

Dari informasi lain, Mahmudin mengklaim memiliki cincin batu hitam yang disebut batu Hajar Aswad. Selain itu, salat yang masuk dalam rukun Islam kedua, dalam pengajian yang dipimpin oleh Mahmudin tersebut lebih afdal  jika dilakukan secara batin daripada secara lahir. Sehingga, saat pengajian, ketika azan waktu tiba, para jamaah tidak melaksanakan salat karena sudah “ditanggung” guru Mahmudin.

Ada pula ritual nyeleneh lainnya. Yakni, soal puasa Ramadan. Mahmudin menyatakan imsak berakhir pada pukul 00.00 Wita. Ia juga mengaku telah tiga kali mendapat lailatulkadar. Yang cukup mengenaskan dan sulit diterima nalar, adalah, Makkah dan Madinah --dua kota suci umat Islam-- dikatakan berada di Mugirejo.

“Tanam” Rp 150 Juta di Tulang"


BALIKPAPAN  -  Tulang yang diberikan implan pada tubuh Riki Raotama, penderita skoliosis di Balikpapan, mulai proses penyesuaian. Hal ini dikatakan dr Alvarez Zevanya Moningka SpOT dari Siloam Hospitals Balikpapan yang menjadi ketua tim dokter saat operasi Riki. Kata dia, ada dua teknik penyembuhan yang diberikan kepada pasien. Baik melalui obat-obatan serta terapi jalan. Bekerja sama dengan dokter anestesi, pasien diberikan nutrisi juga obat antibiotik.
 
Sejauh ini, kata dr Alvarez, Riki baru bisa tidur, duduk, dan sedikit berdiri. Pasien tidak diperkenankan  membungkukkan badan. “Untuk bungkuk ini jangan dilakukan selama enam bulan. Karena ada pemasangan alat penyangga,” paparnya.
 
Lebih jauh, dr Alvarez menjelaskan, skoliosis, sebenarnya banyak diderita perempuan ketimbang pria. Perbandingan, dari  100 ribu pria hanya satu orang terkena penyakit pembengkokan tulang belakang tersebut. Sedangkan perempuan lebih rentan, dari empat orang, satu di antaranya pasti terdeteksi. Oleh karena itu ketika Riki mengalami skoliosis termasuk langka. Apalagi kemiringan tulang Riki sudah parah.
 
Disinggung pengalaman kasus serupa di Balikpapan, dr Alvarez mengungkapkan, sudah pernah ditemukan masalah penyakit yang sama  dan ditangani. Akan tetapi kondisi pasien masih belum separah Riki. “Dari teman-teman dokter tulang, sebenarnya di Balikpapan sudah pernah dilakukan kasus serupa tetapi masih simpel. Belum seberat ini. Dan itu dilakukan lama banget. Ini baru pertama kali,” imbuhnya.
 
Kata dia,  bisa saja ada beberapa orang terkena penyakit tersebut namun enggan melanjutkan ke meja operasi karena diketahui biayanya mahal. Bukan masalah alat operasi, melainkan biaya alat penyangga tulang  yang ditanam. Harganya Rp 150 juta.
 
Menurut dia, bagi mereka yang menderita penyakit langka namun kurang memiliki dana, ia merekomendasikan Yayasan Buddha Tzu Chi. Banyak warga yang telah dibantu oleh yayasan itu. “Orang tak mampu banyak dibantu yayasan ini. Mungkin isi pendonor banyak orang-orang Tiongkok yang mampu. Di Jakarta banyak mereka sosial membantu,” paparnya.
 
Dokter ortopedi itu juga memiliki sebuah rencana. Untuk memeriksa anak-anak di Balikpapan untuk melihat sejauh mana skoliosis berkembang. Penyakit ini tidak diketahui ketika kecil, melainkan beranjak akil balig baru nampak. Pendeteksi dini sangat diperlukan.
 
 “Orangtua harus mengikuti perkembangan tumbuh kembang anak. Pemantauan itu perlu. Makanya saya ingin buat pemetaan,” tuntasnya.
 
Diketahui, pertama kalinya di Balikpapan, skoliosis berat berhasil dioperasi di Siloam Hospitals Balikpapan.
Tim dokter, diketuai dr Alvarez, yang dibantu oleh dr Tommy Suharso, SpOT (K) (dokter Siloam Hospitals Manado) Spine, dan dua dokter anestesi Siloam Hospitals Balikpapan yakni dr Agung Purnomo SpAn dan dr Iskandar Rauf SpAn itu sukses menanamkan alat penyangga tulang belakang (pedicle screw fixation) ke tubuh pasien.
 
Operasi yang dilakukan tim dr Alvarez memang sangat berat. Mengingat pertumbuhan tulang Riky sudah berhenti, sehingga membuat tulangnya menjadi keras. Kendati begitu, itu tidak mengundurkan semangat tim menjalankan operasi.
 
Terakhir, dr Alvarez melakukan operasi tersebut saat menjalani pendidikan ortopedi. Pascaoperasi, posisi tulang belakang Riki kini condong 10 derajat dari lebih 40 derajat saat sebelum dioperasi. Walaupun tulang belakang tidak normal 100 persen, namun dipastikan Riki dapat beraktivitas seperti biasa.
 
SEMPAT LEMAH
Pantauan Kaltim Post, kemarin, Riki Raotama, di Siloam Hospitals Balikpapan,  berangsur pulih. Meski masih merasakan lemah serta mual, kondisinya dipastikan membaik dalam beberapa hari ke depan.
 
Saat ditemui media ini, pria kelahiran Balikpapan 9 Juni 1993 itu terus memegang plastik hitam. Tubuhnya lemas. Efek operasi masih jelas nampak. Ditemani kakaknya, Silviana, Riki baru saja kelar mengganti perban di punggungnya. Ia belum bisa berdiri lama. Kursi roda terus menemani dia.
 
Matanya membuka tutup. Ditambah kepalanya pening. Harian ini yang mencoba berinteraksi gagal. “Mual,” ucap Riki singkat sambil menunjuk lehernya. Oleh para suster, Riki disebut malas makan. Harusnya Riki semangat menyantap makanan. “Ayo Riki banyak makan ya,” urai salah satu suster.
 
Dikatakan Silviana, efek operasi masih terasa, meski sudah melewati tiga hari. “Iya itu, tiga hari pascaoperasi keadaan Riki masih lemas. Di mana-mana habis operasi apalagi berat pasti tidak langsung tenaganya pulih. Tapi melihat kondisinya jauh lebih baik,” ujarnya.
 
Sebelumnya, Silviana sempat menangis haru. Bulir air bening keluar dari matanya. Usaha yang selama ini tanpa henti mencari dana untuk operasi adiknya akhirnya terwujud. Berbagai perusahaan yang diberikan proposal banyak membantu.
 
Supaya tidak bosan, Silviana sesekali membeli makanan di luar menu disediakan rumah sakit. “Sekali-kali beli makanan di luar. Buat dia semangat makan,” imbuhnya. Kendati begitu, asupan infus yang masih menancap di tangannya jadi gizi pendorong. Sehingga tidak terlalu ditakuti.
 
Menurut Silviana, dirinya juga banyak berterima kasih kepada teman satu angkatan Riki di SMK 2 yang banyak membantu. “Dukungan banyak mengalir. Kami sangat berterima kasih,” ujarnya.