Aliran sesat yang meresahkan masyarakat kembali hadir di ibu kota Kaltim. Sempat bersitegang dengan warga setempat. MUI turun tangan menyelidikinya.
M RIZKI, Samarinda
LAMA tidak terdengar kabarnya, aliran sesat di Kota Tepian muncul lagi ke permukaan. Tepatnya di Jalan Mugirejo, Gang Manunggal RT 6, Kecamatan Samarinda Utara. Dengan motif pengajian dan pengobatan spiritual, seseorang yang mengaku ustaz diduga menyampaikan ajaran menyimpang dari Islam. Yaitu, menarik iuran puluhan hingga ratusan juta rupiah dan melakukan hubungan seks dengan istri jamaah.
Dikonfirmasi kabar tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda KH Zaini Naim membenarkan. “Jadi, memang beberapa hari lalu ada sekelompok orang datang ke MUI Samarinda. Mereka melaporkan seorang ustaz yang mengajarkan ajaran yang menurut mereka tidak benar. Kenapa mereka mengatakan tidak benar? Karena yang melaporkan itu adalah pengikutnya (sendiri, Red),” ungkap Zaini Naim, kemarin (27/2).
Dari laporan eks jamaah ini, kegiatan pengajian dan pengobatan itu dipimpin Mahmudin Azhari. Perkumpulannya disebut Majelis Ar Roudhoh di bawah naungan Yayasan Sekumpul.
Adapun ajaran yang diduga menyimpang itu, sebut Zaini Naim, soal adanya investasi yang ditarik dari jamaah oleh Mahmudin.
“Selain itu, ada motif pelecehan seksual. Karena istri jamaah itu dikawini lewat alam gaib. Dengan mengawini istri jamaah melalui alam gaib, maka perlu kawin di alam yang nyata. (Alasannya) masak ada orang kawin tidak bersetubuh,” ucap Zaini Naim.
Mengapa jamaah perempuan rela dikawini sehingga bersetubuh? Zaini Naim mengatakan hal tersebut bisa saja berawal dari sugesti dan sihir.
“Kami tidak tinggal diam, karena ini menyangkut ajaran dan (akidah) Islam. Saya memerintahkan majelis ulama kecamatan untuk melakukan penyelidikan dan mengumpulkan barang bukti. Sekarang dalam proses. Ketika buktinya kuat, akan saya panggil gurunya,” tegasnya.
Terkait fatwa yang akan dikeluarkan, Zaini Naim mengatakan akan memikirkan hal itu. “Kalau sampai meresahkan, kami serahkan ke kepolisian untuk menindaknya. Begitu pula adanya (dugaan) penipuan. Kalau menyangkut pelecehan agama, ada delik hukumnya lima tahun. Jadi masyarakat jangan mengambil tindakan sendiri,” ujarnya.
Dari penelusuran Kaltim Post, kondisi rumah tempat kegiatan Mahmudin di Mugirejo terlihat lengang dan terkunci. Menurut salah seorang warga yang namanya enggan dikorankan, Mahmudin kini tidak diketahui keberadaannya.
“Iya Mas, bermasalah. Sudah lama enggak ditempati. Sempat berselisih dengan warga sekitar,” tutur perempuan paruh baya itu.
Adapun perselisihan dimaksud adalah pengajian yang diselenggarakan setiap malam, cukup mengganggu warga sekitar lantaran lantunan suara yang keras. “Dengar-dengar juga istri jamaahnya disetubuhi,” imbuh perempuan tersebut.
Dari informasi lain, Mahmudin mengklaim memiliki cincin batu hitam yang disebut batu Hajar Aswad. Selain itu, salat yang masuk dalam rukun Islam kedua, dalam pengajian yang dipimpin oleh Mahmudin tersebut lebih afdal jika dilakukan secara batin daripada secara lahir. Sehingga, saat pengajian, ketika azan waktu tiba, para jamaah tidak melaksanakan salat karena sudah “ditanggung” guru Mahmudin.
Ada pula ritual nyeleneh lainnya. Yakni, soal puasa Ramadan. Mahmudin menyatakan imsak berakhir pada pukul 00.00 Wita. Ia juga mengaku telah tiga kali mendapat lailatulkadar. Yang cukup mengenaskan dan sulit diterima nalar, adalah, Makkah dan Madinah --dua kota suci umat Islam-- dikatakan berada di Mugirejo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar