Jumat, 28 Februari 2014

“Tanam” Rp 150 Juta di Tulang"


BALIKPAPAN  -  Tulang yang diberikan implan pada tubuh Riki Raotama, penderita skoliosis di Balikpapan, mulai proses penyesuaian. Hal ini dikatakan dr Alvarez Zevanya Moningka SpOT dari Siloam Hospitals Balikpapan yang menjadi ketua tim dokter saat operasi Riki. Kata dia, ada dua teknik penyembuhan yang diberikan kepada pasien. Baik melalui obat-obatan serta terapi jalan. Bekerja sama dengan dokter anestesi, pasien diberikan nutrisi juga obat antibiotik.
 
Sejauh ini, kata dr Alvarez, Riki baru bisa tidur, duduk, dan sedikit berdiri. Pasien tidak diperkenankan  membungkukkan badan. “Untuk bungkuk ini jangan dilakukan selama enam bulan. Karena ada pemasangan alat penyangga,” paparnya.
 
Lebih jauh, dr Alvarez menjelaskan, skoliosis, sebenarnya banyak diderita perempuan ketimbang pria. Perbandingan, dari  100 ribu pria hanya satu orang terkena penyakit pembengkokan tulang belakang tersebut. Sedangkan perempuan lebih rentan, dari empat orang, satu di antaranya pasti terdeteksi. Oleh karena itu ketika Riki mengalami skoliosis termasuk langka. Apalagi kemiringan tulang Riki sudah parah.
 
Disinggung pengalaman kasus serupa di Balikpapan, dr Alvarez mengungkapkan, sudah pernah ditemukan masalah penyakit yang sama  dan ditangani. Akan tetapi kondisi pasien masih belum separah Riki. “Dari teman-teman dokter tulang, sebenarnya di Balikpapan sudah pernah dilakukan kasus serupa tetapi masih simpel. Belum seberat ini. Dan itu dilakukan lama banget. Ini baru pertama kali,” imbuhnya.
 
Kata dia,  bisa saja ada beberapa orang terkena penyakit tersebut namun enggan melanjutkan ke meja operasi karena diketahui biayanya mahal. Bukan masalah alat operasi, melainkan biaya alat penyangga tulang  yang ditanam. Harganya Rp 150 juta.
 
Menurut dia, bagi mereka yang menderita penyakit langka namun kurang memiliki dana, ia merekomendasikan Yayasan Buddha Tzu Chi. Banyak warga yang telah dibantu oleh yayasan itu. “Orang tak mampu banyak dibantu yayasan ini. Mungkin isi pendonor banyak orang-orang Tiongkok yang mampu. Di Jakarta banyak mereka sosial membantu,” paparnya.
 
Dokter ortopedi itu juga memiliki sebuah rencana. Untuk memeriksa anak-anak di Balikpapan untuk melihat sejauh mana skoliosis berkembang. Penyakit ini tidak diketahui ketika kecil, melainkan beranjak akil balig baru nampak. Pendeteksi dini sangat diperlukan.
 
 “Orangtua harus mengikuti perkembangan tumbuh kembang anak. Pemantauan itu perlu. Makanya saya ingin buat pemetaan,” tuntasnya.
 
Diketahui, pertama kalinya di Balikpapan, skoliosis berat berhasil dioperasi di Siloam Hospitals Balikpapan.
Tim dokter, diketuai dr Alvarez, yang dibantu oleh dr Tommy Suharso, SpOT (K) (dokter Siloam Hospitals Manado) Spine, dan dua dokter anestesi Siloam Hospitals Balikpapan yakni dr Agung Purnomo SpAn dan dr Iskandar Rauf SpAn itu sukses menanamkan alat penyangga tulang belakang (pedicle screw fixation) ke tubuh pasien.
 
Operasi yang dilakukan tim dr Alvarez memang sangat berat. Mengingat pertumbuhan tulang Riky sudah berhenti, sehingga membuat tulangnya menjadi keras. Kendati begitu, itu tidak mengundurkan semangat tim menjalankan operasi.
 
Terakhir, dr Alvarez melakukan operasi tersebut saat menjalani pendidikan ortopedi. Pascaoperasi, posisi tulang belakang Riki kini condong 10 derajat dari lebih 40 derajat saat sebelum dioperasi. Walaupun tulang belakang tidak normal 100 persen, namun dipastikan Riki dapat beraktivitas seperti biasa.
 
SEMPAT LEMAH
Pantauan Kaltim Post, kemarin, Riki Raotama, di Siloam Hospitals Balikpapan,  berangsur pulih. Meski masih merasakan lemah serta mual, kondisinya dipastikan membaik dalam beberapa hari ke depan.
 
Saat ditemui media ini, pria kelahiran Balikpapan 9 Juni 1993 itu terus memegang plastik hitam. Tubuhnya lemas. Efek operasi masih jelas nampak. Ditemani kakaknya, Silviana, Riki baru saja kelar mengganti perban di punggungnya. Ia belum bisa berdiri lama. Kursi roda terus menemani dia.
 
Matanya membuka tutup. Ditambah kepalanya pening. Harian ini yang mencoba berinteraksi gagal. “Mual,” ucap Riki singkat sambil menunjuk lehernya. Oleh para suster, Riki disebut malas makan. Harusnya Riki semangat menyantap makanan. “Ayo Riki banyak makan ya,” urai salah satu suster.
 
Dikatakan Silviana, efek operasi masih terasa, meski sudah melewati tiga hari. “Iya itu, tiga hari pascaoperasi keadaan Riki masih lemas. Di mana-mana habis operasi apalagi berat pasti tidak langsung tenaganya pulih. Tapi melihat kondisinya jauh lebih baik,” ujarnya.
 
Sebelumnya, Silviana sempat menangis haru. Bulir air bening keluar dari matanya. Usaha yang selama ini tanpa henti mencari dana untuk operasi adiknya akhirnya terwujud. Berbagai perusahaan yang diberikan proposal banyak membantu.
 
Supaya tidak bosan, Silviana sesekali membeli makanan di luar menu disediakan rumah sakit. “Sekali-kali beli makanan di luar. Buat dia semangat makan,” imbuhnya. Kendati begitu, asupan infus yang masih menancap di tangannya jadi gizi pendorong. Sehingga tidak terlalu ditakuti.
 
Menurut Silviana, dirinya juga banyak berterima kasih kepada teman satu angkatan Riki di SMK 2 yang banyak membantu. “Dukungan banyak mengalir. Kami sangat berterima kasih,” ujarnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar